Search TRAFFIC

NOTE: Please see instructions here to search inside TRAFFIC's PDFs

Subscribe to news

STAY UP TO DATE

news, studies, issues and events from the world of wildlife trade.



Instagram
Also of interest

Wildlife crime is serious - watch the video!

...............................................................

Interested in a Masters in Conservation Leadership at the University of Cambridge? More details...

...............................................................

TRAFFIC is grateful for the financial contribution from The Rufford Foundation towards this website

Useful links
Focus on

Behaviour change l Conservation awareness l Enforcement

...............................................................

Iconic wildlife

Apes l Bears l Deer l Elephants l Leopards l Marine turtles l Pangolins l Reptiles l Rhinos l Sharks & rays l Tigers l others

...............................................................

Forestry

Timber trade

...............................................................

Fisheries

Fisheries regulation

...............................................................

Medicinal plants

Medicinal and aromatic plants

...............................................................

Wildmeat

Wildmeat resources

...............................................................

Pets & fashion

Wild animals used for pets & fashion

...............................................................

Regions

Africa l Americas l Asia l Australasia l Europe l Middle East

...............................................................

International Agreements

CBD l CITES l CMS

...............................................................

Main | Margasatwa burung Indonesia dijarah untuk memasok pasar-pasar burung di Jawa »
Monday
Jul032017

Transaksi ilegal satwa liar: dampak lemahnya regulasi penangkaran di Indonesia

Nyctimystes infrafrenatus © Photowitch/Dreamstime.com Jakarta, Indonesia, 3 Juli 2017—Sebuah penelitan terbaru mempertanyakan validitas regulasi Indonesia yang mengizinkan penangkar memproduksi lebih dari empat juta satwa di penangkaran untuk diperjualbelikan selama 2016.

Rencana Produksi Reptil, Amphibi Dan Mamalia (RAM) Pet Hasil Penangkaran Tahun 2016 menetapkan kuota untuk beberapa jenis mamalia, reptil dan amfibi yang dapat dikembangbiakan oleh penangkaran yang berlisensi di Indonesia.

Sepanjang tahun 2016, RAM tersebut diterapkan pada 13 fasilitas penangkaran terhadap 129 jenis mamalia, reptil, dan amfibi dengan jumlah sebanyak 4.273.029 ekor satwa yang dikembangbiakan melalui penangkaran.

Namun, sebuah penelaahan kritis terhadap RAM tersebut, yang hari ini dipublikasikan oleh Conservation Biology, menemukan sebuah kelemahan utama yang dapat menyebabkan perdagangan satwa liar secara legal dengan klaim bahwa satwa-satwa tersebut adalah hasil penangkaran.

Salah satu kelemahan yang digarisbawahi dalam Penggunaan Parameter Biologi untuk pengaturan kuota satwa di fasilitas penangkaran Indonesia adalah kemampuan berkembang biak dari banyak satwa yang dibesar-besarkan—salah satu spesies katak diberikan kuota sampai 67 kali lipat dari kemampuan perkembangbiakan alaminya.

Para peneliti bahkan menemukan 2 kuota spesies yang tidak satu pun stoknya terdapat di seluruh fasilitas penangkaran yang terdaftar di Indonesia, dan beberapa kuota pun tidak mempertimbangkan betapa sulitnya mengembangbiakan spesies tertentu dalam penangkaran.

Dalam kasus 38 jenis satwa, RAM mengizinkan untuk memproduksi lebih banyak satwa, bahkan lebih dari jumlah yang mungkin diproduksi menurut perhitungan pemerintah.

“Sampai kelemahan-kelemahan ini dibenahi, mamalia, reptil, dan amfibi Indonesia yang dinyatakan sebagai hasil penangkaran tidak dapat diasumsikan seperti itu, karena mungkin saja satwa tersebut berasal dari alam,” peneliti menyimpulkan.

Para peneliti membandingkan parameter biologis yang digunakan dalam RAM dengan informasi yang berdasarkan lebih dari 200 sumber yang dipublikasikan. Perbandingan juga dilakukan dengan basis data sejarah kehidupan spesies dan pendapat para ahli untuk seluruh 129 spesies, termasuk seberapa sering jenis satwa tersebut berkembang biak, ukuran sarang, dan kotorannya.

Studi ini menemukan bahwa kuota penangkaran di Indonesia untuk 21 jenis mamalia, 38 jenis reptil dan dua amfibi sangatlah tidak realistis. Untuk mamalia, kuotanya ditetapkan sampai sembilan kali lebih tinggi, lima kali lebih tinggi untuk reptil, dan 67 kali untuk amfibi dari jumlah yang secara realistis dapat dicapai.

Sebagai contoh, menurut RAM, Kadal Duri (Tribolonotus gracilis) dapat menghasilkan lima sampai 12 telur, dua kali dalam setahun, padahal dalam informasi terpublikasi, jenis tersebut hanya dapat menghasilkan 6 telur per tahun.
“Sangatlah penting bagi banyak negara untuk mempunyai regulasi semacam ini untuk mengatur penangkaran komersial, tetapi regulasi tersebut harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan penghitungan yang akurat,” ujar Serene Chng, penulis, dan penanggung jawab program TRAFFIC di Asia Tenggara.

“Jumlah yang ada dalam RAM jauh lebih tinggi dari kapasitas produksi realistis sebuah penangkaran. Celah yang terjadi dapat dengan mudah dieksploitasi oleh oknum pedagang untuk menjual satwa liar melalui penangkaran.

Hal ini melemahkan penangkar resmi dan meningkatkan tekanan pada satwa yang telah terancam oleh perburuan liar dan perdagangan illegal” Chng menambahkan.

Setidaknya 75 jenis satwa yang tercantum dalam RAM terdaftar dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sebagai satwa hasil penangkaran yang diizinkan untuk diperjualbelikan secara internasional.

CITES telah mengakui kesalahan dan masalah pada satwa liar sebagai satwa penangkaran. Mereka pun telah membuat mekanisme yang mengatur pelaporan kasus yang dicurigai sebagai penyalahgunaan penangkaran. Mekanisme ini diharapkan dapat dipergunakan untuk pertama kalinya dalam pertemuan Animals Committee akhir bulan ini.

“Pertanyaan yang diangkat oleh analisis ini seharusnya menjadi perhatian nyata bagi negara-negara pengimpor satwa liar berlabel hasil penangkaran dari Indonesia dan bagi kredibilitas penangkaran komersial secara keseluruhan,” ujar Kanitha Krishnasamy, penanggung jawab senior program TRAFFIC di Asia Tenggara.

Penelitian ini merekomendasikan pemerintah Indonesia untuk menyesuaikan RAM tersebut dengan mempertimbangkan semua faktor terkait yang mempengaruhi kesuksesan penangkaran dan untuk proyeksi yang realistis secara biologis. Kuota-kuota untuk spesies yang tidak mempunyai stok penangkaran harus ditarik.

Inspeksi mendadak dan audit fasilitas penangkaran secara reguler juga harus dilaksanakan untuk memastikan bahwa jumlah satwa yang dilaporkan sesuai dengan kenyataan.

Selesai.