Search TRAFFIC

NOTE: Please see instructions here to search inside TRAFFIC's PDFs

Subscribe to news

STAY UP TO DATE

news, studies, issues and events from the world of wildlife trade.



Instagram
Also of interest

Wildlife crime is serious - watch the video!

...............................................................

Interested in a Masters in Conservation Leadership at the University of Cambridge? More details...

...............................................................

TRAFFIC is grateful for the financial contribution from The Rufford Foundation towards this website

Useful links
Focus on

Behaviour change l Conservation awareness l Enforcement

...............................................................

Iconic wildlife

Apes l Bears l Deer l Elephants l Leopards l Marine turtles l Pangolins l Reptiles l Rhinos l Sharks & rays l Tigers l others

...............................................................

Forestry

Timber trade

...............................................................

Fisheries

Fisheries regulation

...............................................................

Medicinal plants

Medicinal and aromatic plants

...............................................................

Wildmeat

Wildmeat resources

...............................................................

Pets & fashion

Wild animals used for pets & fashion

...............................................................

Regions

Africa l Americas l Asia l Australasia l Europe l Middle East

...............................................................

International Agreements

CBD l CITES l CMS

...............................................................

« Maraknya perdagangan kura-kura darat dan air tawar di Jakarta kembali menjadi sorotan | Main | Transaksi ilegal satwa liar: dampak lemahnya regulasi penangkaran di Indonesia »
Thursday
Dec212017

Perdagangan ilegal meneror habitat Trenggiling Sunda yang terancam punah

Manis javanica © Kanitha Krishnasamy / TRAFFIC Jakarta, Indonesia, 21 Desember 2017 — Indonesia sebagai salah satu habitat terakhir Trenggiling Sunda, telah kehilangan hingga 10.000 ekor trenggiling setiap tahunnya akibat perdagangan ilegal. Meskipun secara signifikan telah banyak penindakan hukum yang berhasil dilakukan, ungkap penelitian TRAFFIC terbaru.

Dalam laporan penelitian Pemetaan penyitaan trenggiling di Indonesia, para peneliti TRAFFIC menemukan sebanyak 35.632 ekor trenggiling yang telah disita pada 111 kasus penegakan hukum dalam kurun waktu enam tahun dari 2010 - 2015.

Jumlah trenggiling dan bagian tubuh yang disita sangat bervariasi setiap tahunnya selama periode penelitian, antara 2436 sampai 10.857 ekor trenggiling per tahun.

Data menunjukan bahwa Indonesia mempunyai fungsi utama sebagai negara pemasok trenggiling, dengan penyitaan domestik yang mencapai 83% dari 111 kasus yang dipelajari. Pihak yang berwenang juga mengidentifikasi atau menangkap setidaknya 127 tersangka yang terkait dalam kasus-kasus tersebut.

Segala bentuk perdagangan Trenggiling Sunda (Manis javanica) yang merupakan hasil tangkapan liar, dilarang di bawah hukum Indonesia. Trenggiling Sunda adalah satu-satunya jenis trenggiling yang ditemukan di Indonesia.

“Hal ini merupakan peringatan bahwa satwa Indonesia diburu dalam skala komersial untuk memenuhi permintaan global perdagangan ilegal,” ujar Kanitha Krishnasamy, Direktur Pelaksana Regional untuk TRAFFIC Asia Tenggara dan salah satu penulis pada laporan penelitian.

“Relatif tingginya angka penyitaan dan penangkapan menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia dalam menanggulangi masalah ini, hal ini juga memperlihatkan tiada hentinya tekanan perburuan ilegal di salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbanyak di dunia.”

Tingginya tekanan pada spesies Trenggiling Sunda sangatlah jelas pada penempatan Indonesia di 10 negara teratas yang terlibat dalam perdagangan internasional trenggiling ilegal minggu lalu, bersamaan dengan dipublikasikannya laporan TRAFFIC tentang penyitaan global trenggiling di antara 2010 - 2015. Laporan penelitian tersebut berhubungan dengan jumlah insiden penyitaan dan besarnya kuantitas yang melibatkan Indonesia.

Lebih lanjut, penangkapan besar terus terjadi di luar periode penelitian, dengan setidaknya 21 kasus penyitaan di Indonesia sejak 2016, termasuk penyitaan 2,5 ton daging trenggiling pada Oktober 2016.

“Trenggiling Sunda termasuk ke dalam kategori kritis dan oleh karena itu dianggap sangat beresiko menghadapi kepunahan di alam – jelas trenggiling tidak bisa diperlakukan kejam seperti ini,” ujar Lalita Gomez, Petugas Program dan salah satu penulis laporan penelitian ini.

Sumatra ditemukan menjadi titik panas perdagangan dalam penelitian ini, menduduki peringkat teratas dalam daftar tempat yang mencatat penyitaan terbanyak. Sumatra juga berperan sebagai penghubung penting dalam perdagangan trenggiling ilegal antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan kota Medan di Sumatra terlihat berperan sebagai tempat pengepulan utama sebelum di ekspor.

Tiongkok dan Vietnam terlibat sebagai negara tujuan, sedangkan Malaysia dilaporkan menjadi negara transit terpenting dalam pengiriman trenggiling asal Indonesia.

Hanya satu catatan yang menyebutkan Indonesia sebagai sebuah negara transit potensial, di mana pengiriman sisik trenggiling asal Kamerun telah disita di Jakarta pada bulan Januari 2015.

Melihat banyaknya penyitaan trenggiling dalam skala besar, dan rentang generasi rata-rata trenggiling selama tujuh tahun, populasi trenggiling cenderung mengalami penurunan akibat perdagangan ilegal, ujar para peneliti.

Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pengawasan, investigasi, dan kerjasama antar-instansi yang lebih kuat, serta kesadaran tinggi dari kejaksaan dan pengadilan sebagai bagian dari upaya yang diperlukan untuk menangani ancaman perdagangan trenggiling ilegal.

Pemetaan penyitaan trenggiling di Indonesia (2010-2015) (PDF, 1.1.MB)

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:
Elizabeth John, Senior Communications Officer for TRAFFIC Asia Tenggara
Tel: 03-7880 3940 Email: elizabeth.john@traffic.org

Dr Richard Thomas, TRAFFIC Global Communications Co-ordinator
Tel: +44 1223 331981  Email: richard.thomas@traffic.org

Tentang TRAFFIC
TRAFFIC, jaringan pengawasan perdagangan satwa liar, bekerja untuk memastikan bahwa perdagangan tumbuhan dan satwa liar bukanlah ancaman bagi konservasi alam. TRAFFIC adalah sebuah kerjasama strategis antara IUCN dan WWF.
www.traffic.org

Reader Comments

There are no comments for this journal entry. To create a new comment, use the form below.

PostPost a New Comment

Enter your information below to add a new comment.

My response is on my own website »
Author Email (optional):
Author URL (optional):
Post:
 
Some HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>