Search TRAFFIC

NOTE: Please see instructions here to search inside TRAFFIC's PDFs

Subscribe to news

STAY UP TO DATE

news, studies, issues and events from the world of wildlife trade.



Instagram
Also of interest

Wildlife crime is serious - watch the video!

...............................................................

Interested in a Masters in Conservation Leadership at the University of Cambridge? More details...

...............................................................

TRAFFIC is grateful for the financial contribution from The Rufford Foundation towards this website

Useful links
Focus on

Behaviour change l Conservation awareness l Enforcement

...............................................................

Iconic wildlife

Apes l Bears l Deer l Elephants l Leopards l Marine turtles l Pangolins l Reptiles l Rhinos l Sharks & rays l Tigers l others

...............................................................

Forestry

Timber trade

...............................................................

Fisheries

Fisheries regulation

...............................................................

Medicinal plants

Medicinal and aromatic plants

...............................................................

Wildmeat

Wildmeat resources

...............................................................

Pets & fashion

Wild animals used for pets & fashion

...............................................................

Regions

Africa l Americas l Asia l Australasia l Europe l Middle East

...............................................................

International Agreements

CBD l CITES l CMS

...............................................................

« Pengembangbiakan Tokek dalam Tangkaran Tidak Masuk Akal—TRAFFIC | Main | Puluhan ribu burung dijual secara ilegal di Jakarta »
Tuesday
Oct202015

Warga Negara Jerman Tertangkap di Indonesia atas Dugaan Penyelundupan Biawak Tanpa Telinga

Lanthanotus borneensis © Ch'ien C. Lee / Rainforest Pictures of Tropical Asia Jakarta, Indonesia, Oktober 2015—Seorang warga negara Jerman telah ditangkap di Bandara Udara Internasional Soekarno Hatta karena membawa 8 ekor biawak tanpa telinga dan berusaha menyelundupkannya keluar Jakarta. Salah satu dari biawak yang dibawanya mati di dalam perjalanan.

Kejadian ini terjadi pada 11 Oktober 2015, sedikit lebih dari setahun sejak TRAFFIC memperingatkan akan munculnya perdagangan tingkat international pada biawak bawah tanah unik khas Kalimantan ini.

Hubungan negara Jerman dalam perdagangan Biawak tanpa telinga Lanthanotus borneensis sebenarnya telah ada. Pada Juli 2015, salah satu pedagang reptil di Amerika Serikat memberi pengakuan bahwa Lanthanotus borneensis yang dijualnya diimpor dari penangkaran Biawak tanpa telinga yang berada di Jerman – pengakuan bahwa biawak ini berasal dari penangkaran mungkin adalah cara untuk menghindari implikasi dari hukum Lacey. Hukum Lacey adalah hukum Amerika Serikat yang mengatur mengenai perdagangan satwa.

Namun, tidak pernah ada negara daerah persebaran biawak tanpa telinga (Indonesia, Malaysia atau Brunei Darussalam) yang pernah pernah secara legal mengekspor biawak ini, maka stok indukan yang berada di tempat penangkaran manapun tidak mungkin diperoleh secara legal. Kasus terakhir ini menunjukkan bahwa satwa masih diambil dari alam.

“Penelitian tingkat internasional adalah penting untuk mematahkan mitos bahwa satwa yang diperdagangkan adalah hasil penangkaran, pada kenyataannya pengakuan penangkaran seringkali digunakan sebagai kedok agar dapat memperdagangkan satwa langka secara internasional, tanpa ada halangan.” Ucap Sarah Stoner Crime Analyst Senior dari TRAFFIC.

Walaupun dilindungi di 3 negara persebarannya -Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia- ketika biawak tanpa telinga diambil secara illegal dari alam dan diselundupkan ke negara di luar wilayah persebarannya, tidak ada hukum ketat yang mengatur eksploitasi biawak ini di pasar internasional.

Pemerintah Malaysia berada di belakang gerakan memasukkan Biawak Tanpa Telinga ke dalam Appendiks I di konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora - CITES). Hal ini akan melarang segala bentuk perdagangan komersil internasional spesies biawak tanpa telinga.

 “TRAFFIC salut kepada pemerintah propinsi Sarawak dan kepada pemerintah Malaysia yang mengambil langkah untuk memasukkan biawak tanpa telinga ke dalam daftar CITES, dan berharap bahwa tindakan ini akan mendapatkan dukungan dari negara lainnya, terutama negara-negara Eropa, untuk mengakhiri perdagangan illegal ini.” Kata Kanitha Krishnasamy, Programme Manager Senior di TRAFFIC.

TRAFFIC mendorong negara-negara konsumen rantai perdagangan satwa internasional, khususnya Jerman, untuk mengambil langkah kolaborasi dengan negara-negara asal satwa, demi pelestarian satwa khas yang dilindungi.

Menurut Komisaris Besar POLRI, di dalam kasus kali ini, specimen biawak yang dibawa ini dibeli di Kalimantan dengan harga yang sangat murah. Di Jerman, biawak ini dikomersilkan dengan harga yang mencapai ribuan euro.