Search TRAFFIC

NOTE: Please see instructions here to search inside TRAFFIC's PDFs

Subscribe to news

STAY UP TO DATE

news, studies, issues and events from the world of wildlife trade.



Instagram
Also of interest

Wildlife crime is serious - watch the video!

...............................................................

Interested in a Masters in Conservation Leadership at the University of Cambridge? More details...

...............................................................

TRAFFIC is grateful for the financial contribution from The Rufford Foundation towards this website

Useful links
Focus on

Behaviour change l Conservation awareness l Enforcement

...............................................................

Iconic wildlife

Apes l Bears l Deer l Elephants l Leopards l Marine turtles l Pangolins l Reptiles l Rhinos l Sharks & rays l Tigers l others

...............................................................

Forestry

Timber trade

...............................................................

Fisheries

Fisheries regulation

...............................................................

Medicinal plants

Medicinal and aromatic plants

...............................................................

Wildmeat

Wildmeat resources

...............................................................

Pets & fashion

Wild animals used for pets & fashion

...............................................................

Regions

Africa l Americas l Asia l Australasia l Europe l Middle East

...............................................................

International Agreements

CBD l CITES l CMS

...............................................................

« Margasatwa burung Indonesia dijarah untuk memasok pasar-pasar burung di Jawa | Main | Pengembangbiakan Tokek dalam Tangkaran Tidak Masuk Akal—TRAFFIC »
Thursday
May262016

Perdagangan satwa menyebabkan kepunahan burung-burung Indonesia

Elang Jawa © Chris R Shepherd / TRAFFIC Jakarta, Indonesia, 26 Mei 2016 — Studi terbaru TRAFFIC menunjukkan bahwa 13 spesies burung, termasuk maskot satwa langka Indonesia, Elang Jawa,  yang ditemukan di wilayah Paparan Sunda, saat ini menghadapi risiko kepunahan yang sangat besar. Hal ini dikarenakan oleh adanya tingkat perburuan terhadap burung-burung ini yang sangat tinggi.
 
Studi ini juga menemukan bahwa 14 subspesies burung lainnya juga mengalami ancaman kepunahan. Penyebab dari ancaman ini adalah perdagangan burung untuk satwa peliharaan.

Pemeliharaan burung di Indonesia adalah bagian besar dari kultur nasional, namun permintaan yang tinggi telah menyebabkan adanya perburuan burung yang berlebih sehingga populasi burung berkurang secara drastis.

Selain Elang Jawa, satwa lainnya yang terancam punah akibat perburuan ini adalah Merak Hutan perak, Rangkong Gading,  Kakatua Jambul Kuning, Perkici Pelangi, Ekek Geling Jawa, Jalak Putih, Jalak Bali, Cucak Rawa, Kacamata Jawa, Poksay Kuda, Poksay Sumatra, dan Gelatik Jawa.

Walaupun kebanyakan burung ini dipelihara sebagai satwa peliharaan, namun burung Rangkong Gading adalah pengecualian. Baru-baru ini TRAFFIC mengungkapkan bahwa burung ini diburu secara illegal dalam jumlah ribuan untuk paruhnya yang unik. Paruhnya ini dianggap sebagai suatu “Gading” yang menjadi substitusi Gading Gajah yang biasa diperdagangkan. Gading rangkong ini diukir dan dijual di Cina untuk memenuhi permintaan pasar.

Ekek Geling Jawa © Chester ZooSpesies burung lainnya, Ekek Geling Jawa, dikenal sebagai species tersendiri pada tahun 2013. Pada saat yang sama spesies ini diidentifikasikan sebagai burung yang berada di dalam ambang kepunahan akibat perdagangan satwa. Sebagai respons dari hal ini, Aliansi Burung Terancam Punah Asia (Threatened Asian Songbird Alliance – TASA), yang menjadi perwakilan resmi dari Asosiasi Kebun Binatang dan Aquaria Eropa (European Association of Zoos and Aquaria – EAZA) menginisiasi program penangkaran  dalam sejumlah kebun binatang, sebagai upaya pelestarian, jaminan keamanan dan propagasi dari koloni burung.

Usaha konservasi tersebut adalah harapan terakhir untuk jenis burung yang terancam punah. Menurut studi: “Dengan menyesal, setidaknya lima sub-spesies… telah punah di alam, akibat perdagangan satwa.” Sub spesies ini termasuk satu sub spesies burung perkici pelangi, 3 sub spesies burung Kucica hutan yang memiliki kicauan yang sangat merdu, dan salah satu species beo, yang sangat digemari karena kemampuannya untuk meniru suara manusia.

“Apakah itu spesies atau sub spesies, pesan yang dapat disampaikan itu sama: perdagangan yang berlebih itu mengakibatkan kepunahan burung liar Indonesia dan hal ini terjadi dalam laju yang sangat mengkhawatirkan”, ucap Dr Chris Shepard, Direktur TRAFFIC Asia Tenggara, dan juga salah satu penulis dari studi mengenai kepunahan burung Indoensia akibat perdagangan satwa.

“Terlepas dari skala perdagangan dan konsekuensi dari perdagangan yang sangat mengkhawatirkan, pihak pemerintah dan bahkan organisasi konservasi tidak melihat hal ini sebagai isu yang prioritas. Hal ini menghambar usaha yang perlu dilakukan untuk mencegah kehilangan yang lebih besar.”

Solusi dari krisis perdagangan burung di Indonesia adalah kombinasi dari penegakan hukum yang lebih tegas, kampanye sosialisasi isu perdagangan burung, penangkaran in-situ, pengembangbiakan populasi untuk kebutuhan konservasi, mengubah pekerjaan pemburu burung menjadi para penjaga dan pengawas konservasi satwa, adanya survey pasar burung dan juga survey genetis burung, ucap para penulis studi ini.

Sementara karena beberapa spesies yang lebih digemari itu lebih cepat punah karena adanya perburuan, maka kemungkinan besar spesies lain yang belum terancam tinggal mengantri menunggu gilirannya. Hal ini karena spesies lain ini akan menjadi target untuk menjadi “burung pengganti”. Sedangkan ada pula para penangkar komersil yang akan mengawinkan jenis untuk mendapatkan “bibit unggul”, yang menyebabkan masalah konservasi burung menjadi lebih kompleks.

Para penulis juga mempertimbangkan apakah penangkaran komersil bisa membantu situasi tetapi menyimpulkan bahwa ”walaupun menarik secara teori, penangkaran secara komersil menghadirkan berbagai kesulitan yang tidak terduga jumlahnya dalam prakteknya.”
 
Trade-driven extinctions and near-extinctions of avian taxa in Sundaic Indonesia (PDF, 250 KB) dipubliskasikan oleh Forktail, journal dari Oriental Bird Club.
 
Untuk informasi lebih lanjut, bias menghubungi:
Dr Chris R. Shepherd, Regional Director for TRAFFIC in Southeast Asia Tel: +603-7880 3940 Email: chris.shepherd@traffic.org

Tetang TRAFFIC
TRAFFIC, the wildlife trade monitoring network, bekerja untuk menjamin perdagangan tanaman dan satwa liar tidak mengancam konservasi alam. TRAFFIC adalah aliansi strategis IUCN dan WWF. www.traffic.org