Search TRAFFIC

NOTE: Please see instructions here to search inside TRAFFIC's PDFs

Subscribe to news

STAY UP TO DATE

news, studies, issues and events from the world of wildlife trade.



Instagram
Also of interest

Wildlife crime is serious - watch the video!

...............................................................

Interested in a Masters in Conservation Leadership at the University of Cambridge? More details...

...............................................................

TRAFFIC is grateful for the financial contribution from The Rufford Foundation towards this website

Useful links
Focus on

Behaviour change l Conservation awareness l Enforcement

...............................................................

Iconic wildlife

Apes l Bears l Deer l Elephants l Leopards l Marine turtles l Pangolins l Reptiles l Rhinos l Sharks & rays l Tigers l others

...............................................................

Forestry

Timber trade

...............................................................

Fisheries

Fisheries regulation

...............................................................

Medicinal plants

Medicinal and aromatic plants

...............................................................

Wildmeat

Wildmeat resources

...............................................................

Pets & fashion

Wild animals used for pets & fashion

...............................................................

Regions

Africa l Americas l Asia l Australasia l Europe l Middle East

...............................................................

International Agreements

CBD l CITES l CMS

...............................................................

« Perdagangan satwa menyebabkan kepunahan burung-burung Indonesia | Main | Warga Negara Jerman Tertangkap di Indonesia atas Dugaan Penyelundupan Biawak Tanpa Telinga »
Friday
Nov062015

Pengembangbiakan Tokek dalam Tangkaran Tidak Masuk Akal—TRAFFIC

© M. Auliya/ TRAFFICJakarta, Indonesia, 6th November 2015—Laporan TRAFFIC yang baru mempertanyakan kelangsungan dari operasi pengembangbiakan Tokek dalam tangkaran berhubung ada lampu hijau memproduksi jutaan Tokek hidup dalam setahun untuk ekspor, dari Indonesia.

Menurut laporan tersebut, produksi dengan jumlah tersebut melalui operasi pengembangbiakan dalam tangkaran yang ada sangatlah tidak praktis, sehingga pada akhirnya Tokek akan harus diambil dari alam.

Pengembangbiakan komersil Tokek diizinkan di Indonesia, dan pada Maret 2014 Kementrian Kehutanan Indonesia mengumumkan bahwa izin diberikan kepada 6 perusahaan untuk mengekspor dalam setahun, lebih dari 3 juta ekor Tokek yang berasal dari penangkaran, untuk diperdagangan sebagai satwa peliharaan.

Dalam laporan “Adding up the numbers: An investigation into commercial breeding of Tokay Geckos in Indonesia”, (Menghitung jumlah: Investigasi penangkaran Tokek di Indonesia), pengembangbiakan Tokek dalam skala ini akan membutuhkan investasi dan lahan yang sangat besar, serta jumlah pekerja yang sangat banyak, sehingga usaha ini tidaklah menguntungkan.

Para peneliti dalam laporan menghitung bahwa untuk dapat memproduksi 1 juta Tokek ukuran dewasa, maka sebuah fasilitas akan membutuhkan 140.000 ekor Tokek indukan betina dan 14.000 Tokek indukan jantan. Akan dibutuhkan pula 30.000 kontainer inkubasi untuk digunakan secara kontinyu tiap tahunnya, 112.000 kandang penangkaran dan tingkat kesintasan sebesar 100 persen. Fasilitas penangkaran ini juga akan membutuhkan ratusan staff dan persediaan makanan secara terus menerus untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup Tokek. Namun, agar dapat untung, dibutuhkan biaya kurang dari USD 1.90 (Rp. 26.000) untuk memproduksi dan mengekspor setiap ekor Tokek hidup.

“Jika dilihat dari angka yang dibutuhkan untuk investasi ini, tidak mungkin untuk dapat menangkar dan mengembangbiakan Tokek ini sepanjang tahun, apalagi memperoleh keuntungan. ,”ucap Chris Shepard, Direktur regional TRAFFIC di Asia Tenggara.

“Para pedagang yang telah kami ajak bicara pun, mengatakan bahwa mengembangbiakan Tokek dengan skema seperti itu sangatlah tidak umum, bahkan secara finansialpun kurang ada daya tarik : sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kuota ekspor, sejumlah besar Tokek harus di ambil dari alam, dilakukan pencucian ke dalam jalur perdagangan satwa, dan diakui sebagai berasal dari penangkaran,”

Tokay Gecko on sale in Jogjakarta © Elizabeth John Indonesia mengontrol perdagangan Tokek yang diambil dari alam dengan kuota tangkap dan kuota ekspor. Pada tahun 2006, suatu perusahaan yang memiliki izin untuk mengekspor 1 juta Tokek hidup, diperkirakan mengekspor 390.000 Tokek, yang diambil dari alam, dan dalam bentuk Tokek kering. Hal ini melanggar perjanjian yang telah disepakati (diekspor hidup, sebagai satwa peliharaan) juga melanggar kuota nasional yang mengalokasikan 50.000 ekor diambil dari alam. Seperti halnya 5 perusahaan lain yang baru-baru ini diberikan izin oleh Kementrian Kehutanan, perusahaan ini tidak memiliki riwayat telah mengembangbiakan kadal Tokek dalam jumlah komersil sebelumnya, perusahaan ini juga tidak memiliki riwayat telah mensuplai Tokek kepada pasar satwa peliharaan.

Para penulis merekomendasikan bahwa aplikasi izin pengembangbiakan komersial Tokek ditinjau ulang secara kritis. Penulis juga mendorong Indonesia untuk segera mendaftarkan Tokek ke dalam Lampiran III dari Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora (CITES), dan segara menerapkannya, sehingga dapat dilakukan pemantauan perdagangan dari dalam negri, dan untuk mempertimbangkan nilai dari mendaftarkan Tokek ke dalam Lampiran II CITES untuk memperoleh peraturan yang lebih ketat mengenai perdagangan Tokek secara internasional.

"Dengan adanya jutaan Tokek yang diperdagangkan secara internasional, dan adanya populasi Tokek yang terpengaruh secara negatif oleh perdagangan di seluruh Asia Tenggara, penting untuk  memastikan bahwa tingkat perdagangan ini tidak akan merugikan kelangsungan hidup Tokek , "kata Profesor Vincent Nijman dari Oxford Brookes University.

Tokek diperdagangkan sebagai obat tradisional selama berabad-abad di seluruh Asia, tetapi perdagangan ini mengalami lonjakan permintaan secara drastis di tahun 2009 akibat adanya rumor bahwa Tokek bisa menyembuhkan HIV / AIDS. Organisasi Kesehatan Dunia sejak saat itu telah mengeluarkan pernyataan yang  menyangkal mitos ini. Tokek juga umum menjadi satwa peliharaan.

Catatan :
Adding Up The Numbers: An investigation into commercial breeding of Tokay Geckos in Indonesia (PDF, 2MB)

Foto dan Keterangan :
https://www.dropbox.com/sh/o3ov583t2h59xqa/AACBaugePxyS2Lf94n50iaipa?dl=0

Untuk informasi lebih lanjut hubungi :
Elizabeth John, Officer Komunikasi Senior di Malaysia, Tel: 012-2079790 /03-7880 3940 Email: elizabeth.john@traffic.org

Tentang TRAFFIC
TRAFFIC, jaringan pemantauan perdagangan satwa liar, bekerja untuk memastikan perdagangan di tumbuhan dan satwa liat tidak mengancam konservasi alam. TRAFFIC merupakan aliansi strategis antara IUCN dan WWF. www.traffic.org