Search TRAFFIC

NOTE: Please see instructions here to search inside TRAFFIC's PDFs

Subscribe to news

STAY UP TO DATE

news, studies, issues and events from the world of wildlife trade.



Instagram
Also of interest

Wildlife crime is serious - watch the video!

...............................................................

Interested in a Masters in Conservation Leadership at the University of Cambridge? More details...

...............................................................

TRAFFIC is grateful for the financial contribution from The Rufford Foundation towards this website

Useful links
Focus on

Behaviour change l Conservation awareness l Enforcement

...............................................................

Iconic wildlife

Apes l Bears l Deer l Elephants l Leopards l Marine turtles l Pangolins l Reptiles l Rhinos l Sharks & rays l Tigers l others

...............................................................

Forestry

Timber trade

...............................................................

Fisheries

Fisheries regulation

...............................................................

Wildmeat

Wildmeat resources

...............................................................

Medicinal plants

Medicinal and aromatic plants

...............................................................

Pets & fashion

Wild animals used for pets & fashion

...............................................................

Regions

Africa l Americas l Asia l Australasia l Europe l Middle East

...............................................................

International Agreements

CBD l CITES l CMS

...............................................................

Monday
Mar262018

Maraknya perdagangan kura-kura darat dan air tawar di Jakarta kembali menjadi sorotan

Critically Endangered Ploughshare Tortoise Astrochelys yniphora © Global Widllife Conservation / CC Generic 2.0Jakarta, Indonesia, 26 Maret 2018—Ribuan kura-kura darat dan air tawar yang terancam punah banyak diperdagangkan di toko-toko dan kios kios di Jakarta. Berdasarkan laporan TRAFFIC yang baru diterbitkan, kura-kura darat dan air tawar adalah satwa yang pemalu, namun tidak ada perlindungan bagi mereka dari sorotan perdagangan ilegal.

Para peneliti menemukan 4.985 individu kura-kura darat dan air tawar dari 65 spesies yang berbeda-beda, pada tujuh lokasi dalam periode empat bulan. Hampir setengah dari spesies-spesies ini terancam punah, berdasarkan informasi dari IUCN Red List of Endangered Species.

Dalam laporan berjudul Perlahan tapi Pasti: Jejak Global dari Perdagangan Kura-kura Darat dan Air Tawar di Jakarta, yang diterbitkan hari ini, juga mengungkapkan bahwa setidaknya delapan spesies yang teramati bukanlah asli dari Indonesia, melainkan spesies yang dilarang untuk diperdagangkan secara internasional berdasarkan CITES¹ dan besar kemungkinan hewan-hewan ini diimpor secara ilegal.

Survei yang dilakukan pada tahun 2015 ini menemukan peningkatan jumlah kura-kura darat dan air tawar yang diperdagangkan di Jakarta, dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya yang dilakukan oleh TRAFFIC pada tahun 2004 dan 2010. Antara 92 hingga 983 ekor hewan teramati setiap minggunya.

“Jika pihak berwajib tidak menindak perdagangan ini dan pasar-pasar terbuka yang memperdagangkan spesies tersebut secara ilegal sebagai prioritas aksi penegakan hukum, maka banyak spesies-spesies yang saat ini terancam akan makin terdesak menuju kepunahan,” menurut Kanitha Krishnasamy, Acting Regional Director untuk TRAFFIC di Asia Tenggara.

Penelitian ini juga menemukan indikasi situasi yang memburuk dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Yaitu ditemukannya jumlah yang lebih besar pada spesies-spesies yang bukan asli Indonesia, terdaftar dalam CITES, dan terancam. Tercatat antara lain adalah Kura-kura Yniphora Astrochelys yniphora dan Kura-kura Radiata Astrochelys radiata yang kritis terancam punah, keduanya adalah spesies endemik dari Madagaskar dan terdaftar dalam Lampiran I CITES (yang melarang semua bentuk perdagangan internasional) sejak tahun 1975.

Spesies kura-kura bukan asli Indonesia tidak terlindungi oleh hukum di Indonesia, termasuk spesies yang paling umum teramati dalam studi ini – Kura-kura Indian Star Geochelone elegans. Kura-kura ini juga sepenuhnya dilarang untuk ditangkap dan diperdagangkan di negara-negara asalnya di Asia Selatan.

Para peneliti tidak menemukan catatan impor Kura-kura Indian Star untuk tujuan komersil di beberapa tahun terakhir, atau catatan ekspor legal dari negara-negara asalnya berdasarkan basis data UNEP-WCMC² CITES. 

Selain itu, tidak ada informasi spesimen yang tercatat dikembangbiakan dalam penangkaran di negara-negara lain. Penyusun laporan ini menyimpulkan bahwa tingkat impor ilegal kura-kura ini masih tinggi setidaknya hingga tahun 2015.

Penelitian ini meningkatkan dua kekhawatiran yang sudah lama dirasakan oleh para ahli: bahwa tingkat perdagangan kura-kura ilegal yang terjadi di Indonesia cukup tinggi, dan celah yang ada di hukum nasional terus mengurangi efektivitas perlindungan spesies-spesies kura-kura darat dan air tawar, baik lokal maupun spesies bukan asli Indonesia.

Saat ini Indonesia tengah merevisi hukum terkait perlindungan satwa dan tumbuhan liar (Undang-undang No.5 tahun 1990) dan daftar jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi (Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999). Laporan ini merekomendasikan agar revisi undang-undang turut mencakup kepada spesies-spesies bukan asli Indonesia yang terdaftar dalam CITES, beserta ketentuan-ketentuan untuk meningkatkan efektivitas penegakan hukum.

“Agar kesepakatan internasional seperti CITES bisa efektif, Indonesia harus bergerak untuk melindungi bukan hanya spesies-spesies asli, tapi juga spesies-spesies yang bukan asli Indonesia, terutama yang berulang kali ditemukan diselundupkan masuk ke Indonesia,” tutur Krishnasamy.

Minggu lalu, para ahli berkumpul di Singapore Night Safari, dalam acara Tortoise and Freshwater Turtle IUCN Red List Workshop untuk mengkaji status dari 90 spesies kura-kura darat dan air tawar di Asia Tenggara, termasuk 20 spesies yang dapat ditemukan di Indonesia.

Temuan-temuan TRAFFIC berkontribusi kepada kajian yang dilakukan, yang diselenggarakan oleh Wildlife Reserves Singapore yang mendukung pekerjaan TRAFFIC di kawasan ini. Penelitian TRAFFIC terkait perdagangan kura-kura di Indonesia didukung oleh Turtle Conservancy, Darwin Initiative, dan seorang donor anonim.  

 

Catatan:

¹Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (Konvensi Internasional Perdagangan Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah)

²United Nations Environment World Conservation Monitoring Centre (Pusat Pemantauan Konservasi Dunia - Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa)

Foto dan keterangan: https://www.dropbox.com/sh/zr6swpcfd86rcjd/AAD4aldxQ05y5U_CYK86theEa?dl=0

 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

Elizabeth John, Senior Communications Officer TRAFFIC di Asia Tenggara 

Tel: 03-7880 3940 Email: elizabeth.john@traffic.org

 

Thursday
Dec212017

Perdagangan ilegal meneror habitat Trenggiling Sunda yang terancam punah

Manis javanica © Kanitha Krishnasamy / TRAFFIC Jakarta, Indonesia, 21 Desember 2017 — Indonesia sebagai salah satu habitat terakhir Trenggiling Sunda, telah kehilangan hingga 10.000 ekor trenggiling setiap tahunnya akibat perdagangan ilegal. Meskipun secara signifikan telah banyak penindakan hukum yang berhasil dilakukan, ungkap penelitian TRAFFIC terbaru.

Dalam laporan penelitian Pemetaan penyitaan trenggiling di Indonesia, para peneliti TRAFFIC menemukan sebanyak 35.632 ekor trenggiling yang telah disita pada 111 kasus penegakan hukum dalam kurun waktu enam tahun dari 2010 - 2015.

Jumlah trenggiling dan bagian tubuh yang disita sangat bervariasi setiap tahunnya selama periode penelitian, antara 2436 sampai 10.857 ekor trenggiling per tahun.

Data menunjukan bahwa Indonesia mempunyai fungsi utama sebagai negara pemasok trenggiling, dengan penyitaan domestik yang mencapai 83% dari 111 kasus yang dipelajari. Pihak yang berwenang juga mengidentifikasi atau menangkap setidaknya 127 tersangka yang terkait dalam kasus-kasus tersebut.

Segala bentuk perdagangan Trenggiling Sunda (Manis javanica) yang merupakan hasil tangkapan liar, dilarang di bawah hukum Indonesia. Trenggiling Sunda adalah satu-satunya jenis trenggiling yang ditemukan di Indonesia.

“Hal ini merupakan peringatan bahwa satwa Indonesia diburu dalam skala komersial untuk memenuhi permintaan global perdagangan ilegal,” ujar Kanitha Krishnasamy, Direktur Pelaksana Regional untuk TRAFFIC Asia Tenggara dan salah satu penulis pada laporan penelitian.

“Relatif tingginya angka penyitaan dan penangkapan menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia dalam menanggulangi masalah ini, hal ini juga memperlihatkan tiada hentinya tekanan perburuan ilegal di salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbanyak di dunia.”

Tingginya tekanan pada spesies Trenggiling Sunda sangatlah jelas pada penempatan Indonesia di 10 negara teratas yang terlibat dalam perdagangan internasional trenggiling ilegal minggu lalu, bersamaan dengan dipublikasikannya laporan TRAFFIC tentang penyitaan global trenggiling di antara 2010 - 2015. Laporan penelitian tersebut berhubungan dengan jumlah insiden penyitaan dan besarnya kuantitas yang melibatkan Indonesia.

Lebih lanjut, penangkapan besar terus terjadi di luar periode penelitian, dengan setidaknya 21 kasus penyitaan di Indonesia sejak 2016, termasuk penyitaan 2,5 ton daging trenggiling pada Oktober 2016.

“Trenggiling Sunda termasuk ke dalam kategori kritis dan oleh karena itu dianggap sangat beresiko menghadapi kepunahan di alam – jelas trenggiling tidak bisa diperlakukan kejam seperti ini,” ujar Lalita Gomez, Petugas Program dan salah satu penulis laporan penelitian ini.

Sumatra ditemukan menjadi titik panas perdagangan dalam penelitian ini, menduduki peringkat teratas dalam daftar tempat yang mencatat penyitaan terbanyak. Sumatra juga berperan sebagai penghubung penting dalam perdagangan trenggiling ilegal antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan kota Medan di Sumatra terlihat berperan sebagai tempat pengepulan utama sebelum di ekspor.

Tiongkok dan Vietnam terlibat sebagai negara tujuan, sedangkan Malaysia dilaporkan menjadi negara transit terpenting dalam pengiriman trenggiling asal Indonesia.

Hanya satu catatan yang menyebutkan Indonesia sebagai sebuah negara transit potensial, di mana pengiriman sisik trenggiling asal Kamerun telah disita di Jakarta pada bulan Januari 2015.

Melihat banyaknya penyitaan trenggiling dalam skala besar, dan rentang generasi rata-rata trenggiling selama tujuh tahun, populasi trenggiling cenderung mengalami penurunan akibat perdagangan ilegal, ujar para peneliti.

Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pengawasan, investigasi, dan kerjasama antar-instansi yang lebih kuat, serta kesadaran tinggi dari kejaksaan dan pengadilan sebagai bagian dari upaya yang diperlukan untuk menangani ancaman perdagangan trenggiling ilegal.

Pemetaan penyitaan trenggiling di Indonesia (2010-2015) (PDF, 1.1.MB)

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:
Elizabeth John, Senior Communications Officer for TRAFFIC Asia Tenggara
Tel: 03-7880 3940 Email: elizabeth.john@traffic.org

Dr Richard Thomas, TRAFFIC Global Communications Co-ordinator
Tel: +44 1223 331981  Email: richard.thomas@traffic.org

Tentang TRAFFIC
TRAFFIC, jaringan pengawasan perdagangan satwa liar, bekerja untuk memastikan bahwa perdagangan tumbuhan dan satwa liar bukanlah ancaman bagi konservasi alam. TRAFFIC adalah sebuah kerjasama strategis antara IUCN dan WWF.
www.traffic.org

Monday
Jul032017

Transaksi ilegal satwa liar: dampak lemahnya regulasi penangkaran di Indonesia

Nyctimystes infrafrenatus © Photowitch/Dreamstime.com Jakarta, Indonesia, 3 Juli 2017—Sebuah penelitan terbaru mempertanyakan validitas regulasi Indonesia yang mengizinkan penangkar memproduksi lebih dari empat juta satwa di penangkaran untuk diperjualbelikan selama 2016.

Rencana Produksi Reptil, Amphibi Dan Mamalia (RAM) Pet Hasil Penangkaran Tahun 2016 menetapkan kuota untuk beberapa jenis mamalia, reptil dan amfibi yang dapat dikembangbiakan oleh penangkaran yang berlisensi di Indonesia.

Sepanjang tahun 2016, RAM tersebut diterapkan pada 13 fasilitas penangkaran terhadap 129 jenis mamalia, reptil, dan amfibi dengan jumlah sebanyak 4.273.029 ekor satwa yang dikembangbiakan melalui penangkaran.

Namun, sebuah penelaahan kritis terhadap RAM tersebut, yang hari ini dipublikasikan oleh Conservation Biology, menemukan sebuah kelemahan utama yang dapat menyebabkan perdagangan satwa liar secara legal dengan klaim bahwa satwa-satwa tersebut adalah hasil penangkaran.

Salah satu kelemahan yang digarisbawahi dalam Penggunaan Parameter Biologi untuk pengaturan kuota satwa di fasilitas penangkaran Indonesia adalah kemampuan berkembang biak dari banyak satwa yang dibesar-besarkan—salah satu spesies katak diberikan kuota sampai 67 kali lipat dari kemampuan perkembangbiakan alaminya.

Para peneliti bahkan menemukan 2 kuota spesies yang tidak satu pun stoknya terdapat di seluruh fasilitas penangkaran yang terdaftar di Indonesia, dan beberapa kuota pun tidak mempertimbangkan betapa sulitnya mengembangbiakan spesies tertentu dalam penangkaran.

Dalam kasus 38 jenis satwa, RAM mengizinkan untuk memproduksi lebih banyak satwa, bahkan lebih dari jumlah yang mungkin diproduksi menurut perhitungan pemerintah.

“Sampai kelemahan-kelemahan ini dibenahi, mamalia, reptil, dan amfibi Indonesia yang dinyatakan sebagai hasil penangkaran tidak dapat diasumsikan seperti itu, karena mungkin saja satwa tersebut berasal dari alam,” peneliti menyimpulkan.

Para peneliti membandingkan parameter biologis yang digunakan dalam RAM dengan informasi yang berdasarkan lebih dari 200 sumber yang dipublikasikan. Perbandingan juga dilakukan dengan basis data sejarah kehidupan spesies dan pendapat para ahli untuk seluruh 129 spesies, termasuk seberapa sering jenis satwa tersebut berkembang biak, ukuran sarang, dan kotorannya.

Studi ini menemukan bahwa kuota penangkaran di Indonesia untuk 21 jenis mamalia, 38 jenis reptil dan dua amfibi sangatlah tidak realistis. Untuk mamalia, kuotanya ditetapkan sampai sembilan kali lebih tinggi, lima kali lebih tinggi untuk reptil, dan 67 kali untuk amfibi dari jumlah yang secara realistis dapat dicapai.

Sebagai contoh, menurut RAM, Kadal Duri (Tribolonotus gracilis) dapat menghasilkan lima sampai 12 telur, dua kali dalam setahun, padahal dalam informasi terpublikasi, jenis tersebut hanya dapat menghasilkan 6 telur per tahun.
“Sangatlah penting bagi banyak negara untuk mempunyai regulasi semacam ini untuk mengatur penangkaran komersial, tetapi regulasi tersebut harus berdasarkan ilmu pengetahuan dan penghitungan yang akurat,” ujar Serene Chng, penulis, dan penanggung jawab program TRAFFIC di Asia Tenggara.

“Jumlah yang ada dalam RAM jauh lebih tinggi dari kapasitas produksi realistis sebuah penangkaran. Celah yang terjadi dapat dengan mudah dieksploitasi oleh oknum pedagang untuk menjual satwa liar melalui penangkaran.

Hal ini melemahkan penangkar resmi dan meningkatkan tekanan pada satwa yang telah terancam oleh perburuan liar dan perdagangan illegal” Chng menambahkan.

Setidaknya 75 jenis satwa yang tercantum dalam RAM terdaftar dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sebagai satwa hasil penangkaran yang diizinkan untuk diperjualbelikan secara internasional.

CITES telah mengakui kesalahan dan masalah pada satwa liar sebagai satwa penangkaran. Mereka pun telah membuat mekanisme yang mengatur pelaporan kasus yang dicurigai sebagai penyalahgunaan penangkaran. Mekanisme ini diharapkan dapat dipergunakan untuk pertama kalinya dalam pertemuan Animals Committee akhir bulan ini.

“Pertanyaan yang diangkat oleh analisis ini seharusnya menjadi perhatian nyata bagi negara-negara pengimpor satwa liar berlabel hasil penangkaran dari Indonesia dan bagi kredibilitas penangkaran komersial secara keseluruhan,” ujar Kanitha Krishnasamy, penanggung jawab senior program TRAFFIC di Asia Tenggara.

Penelitian ini merekomendasikan pemerintah Indonesia untuk menyesuaikan RAM tersebut dengan mempertimbangkan semua faktor terkait yang mempengaruhi kesuksesan penangkaran dan untuk proyeksi yang realistis secara biologis. Kuota-kuota untuk spesies yang tidak mempunyai stok penangkaran harus ditarik.

Inspeksi mendadak dan audit fasilitas penangkaran secara reguler juga harus dilaksanakan untuk memastikan bahwa jumlah satwa yang dilaporkan sesuai dengan kenyataan.

Selesai.

Thursday
Aug112016

Margasatwa burung Indonesia dijarah untuk memasok pasar-pasar burung di Jawa

Zoothera sibirica © Gabriel Low Jakarta, Indonesia, 11 Agustus 2016 — Perdagangan burung asli Indonesia berlangsung dan berkembang pesat, jauh melampaui pasar-pasar burung terkenal di Jakarta, sebagaimana dilaporkan dalam sebuah hasil studi baru dari TRAFFIC yang terfokus pada pulau Jawa bagian tengah dan timur.

Hampir 23.000 burung tercatat di lima pasar di Surabaya, Yogyakarta, dan Malang dalam survei yang berlangsung selama tiga hari, dengan indikasi jelas bahwa sebagian besar burung-burung ini diambil secara ilegal dari alam liar.

Menjual Kepunahan - Perdagangan Burung di Jawa Timur dan Jawa Bagian Tengah (PDF, 3 MB) melaporkan bahwa 28 dari 241 spesies yang diperdagangkan dilindungi sepenuhnya oleh hukum Indonesia, yang berarti larangan terhadap semua kegiatan perburuan dan perdagangan. Spesies yang dilindungi ini mencakup tujuh ekor Jalak Putih (Acridotheres melanopterus), spesies yang kritis terancam punah (Critically Endangered) yang hanya ditemukan di Pulau Jawa dan Bali, dan seekor Poksay Kuda (Garrulax rufifrons), spesies yang terancam punah (Endangered) yang hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Burung asli Indonesia hanya boleh ditangkap sesuai dengan jumlah kuota yang dialokasikan oleh pihak berwajib. Akan tetapi, tidak ada kuota semacam ini yang telah diberikan, kecuali untuk beberapa tujuan penggunaan, misalnya bila burung yang ditangkap digunakan sebagai stok pembiakan untuk usaha penangkaran komersial.

“Besarnya skala perdagangan ini sangat mencengangkan. Hampir semua burung-burung ini adalah spesies asli Indonesia, 15% di antaranya tidak dapat ditemukan di tempat lain di bumi ini – perkiraan nasib bagi beberapa populasi burung liar Indonesia sangat mengkhawatirkan,” ujar Serene Chng, Programme Officer TRAFFIC dan salah satu penulis laporan terbaru ini.

Survei ini melengkapi sebuah inventarisasi serupa yang dilakukan di Jakarta pada tahun 2014, yang mencatat 19.036 ekor burung yang dijual dalam periode tiga hari, dan memperkuat ancaman terhadap burung liar di Indonesia, negara yang memiliki jumlah terbesar spesies burung yang terancam di Asia.

Bila dibandingkan dengan kondisi pasar-pasar burung di Jakarta, survei ini mencatat lebih banyak spesies-spesies dan subspesies endemik Indonesia, terutama dari Indonesia timur, di pasar-pasar burung di Jawa bagian tengah dan timur.

“Sebagian besar burung yang ditemukan dijual di pasar-pasar ini seharusnya tidak berada di pasar tersebut,” ungkap Dr. Chris R. Shepherd, Regional Director TRAFFIC di Asia Tenggara. “Pemerintah Indonesia harus mengambil tindakan tegas terhadap para pedagang yang terlibat – ini adalah waktunya untuk menghentikan perdagangan burung ilegal di Indonesia untuk selamanya.”

TRAFFIC juga menghimbau Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan perlindungan hukum terhadap spesies yang terancam oleh kepunahan. Antara lain mencakup Poksay Sumatera Garrulax bicolor yang perlu disertakan ke dalam daftar spesies dilindungi dalam aturan hukum margasatwa Indonesia yang sedang dirivisi saat ini.

Satu spesies lain yang menjadi sumber kekhawatiran adalah Cicadaun Besar Chloropsis sonnerati, yang ditemukan dalam jumlah besar baik dalam studi ini maupun dalam survei sebelumnya di Jakarta, sementara lebih dari seribu tercatat dalam sejumlah penyitaan yang berlangsung pada akhir tahun 2015.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Elizabeth John, Senior Communications Officer, TRAFFIC di Asia Tenggara Tel: 03-7880 3940 Email: elizabeth.john@traffic.org

Dr Richard Thomas, Global Communications Co-ordinator TRAFFIC di Inggris, Tel: +44 1223 651782 Email: richard.thomas@traffic.org

Tentang TRAFFIC
TRAFFIC, jaringan pemantau perdagangan satwa liar, bekerja untuk memastikan bahwa perdagangan tanaman dan tumbuhan liat tidak menjadi ancaman terhadap konservasi alam. TRAFFIC adalah aliansi strategis antara IUCN dan WWF. www.traffic.org

Thursday
May262016

Perdagangan satwa menyebabkan kepunahan burung-burung Indonesia

Elang Jawa © Chris R Shepherd / TRAFFIC Jakarta, Indonesia, 26 Mei 2016 — Studi terbaru TRAFFIC menunjukkan bahwa 13 spesies burung, termasuk maskot satwa langka Indonesia, Elang Jawa,  yang ditemukan di wilayah Paparan Sunda, saat ini menghadapi risiko kepunahan yang sangat besar. Hal ini dikarenakan oleh adanya tingkat perburuan terhadap burung-burung ini yang sangat tinggi.
 
Studi ini juga menemukan bahwa 14 subspesies burung lainnya juga mengalami ancaman kepunahan. Penyebab dari ancaman ini adalah perdagangan burung untuk satwa peliharaan.

Pemeliharaan burung di Indonesia adalah bagian besar dari kultur nasional, namun permintaan yang tinggi telah menyebabkan adanya perburuan burung yang berlebih sehingga populasi burung berkurang secara drastis.

Selain Elang Jawa, satwa lainnya yang terancam punah akibat perburuan ini adalah Merak Hutan perak, Rangkong Gading,  Kakatua Jambul Kuning, Perkici Pelangi, Ekek Geling Jawa, Jalak Putih, Jalak Bali, Cucak Rawa, Kacamata Jawa, Poksay Kuda, Poksay Sumatra, dan Gelatik Jawa.

Walaupun kebanyakan burung ini dipelihara sebagai satwa peliharaan, namun burung Rangkong Gading adalah pengecualian. Baru-baru ini TRAFFIC mengungkapkan bahwa burung ini diburu secara illegal dalam jumlah ribuan untuk paruhnya yang unik. Paruhnya ini dianggap sebagai suatu “Gading” yang menjadi substitusi Gading Gajah yang biasa diperdagangkan. Gading rangkong ini diukir dan dijual di Cina untuk memenuhi permintaan pasar.

Ekek Geling Jawa © Chester ZooSpesies burung lainnya, Ekek Geling Jawa, dikenal sebagai species tersendiri pada tahun 2013. Pada saat yang sama spesies ini diidentifikasikan sebagai burung yang berada di dalam ambang kepunahan akibat perdagangan satwa. Sebagai respons dari hal ini, Aliansi Burung Terancam Punah Asia (Threatened Asian Songbird Alliance – TASA), yang menjadi perwakilan resmi dari Asosiasi Kebun Binatang dan Aquaria Eropa (European Association of Zoos and Aquaria – EAZA) menginisiasi program penangkaran  dalam sejumlah kebun binatang, sebagai upaya pelestarian, jaminan keamanan dan propagasi dari koloni burung.

Usaha konservasi tersebut adalah harapan terakhir untuk jenis burung yang terancam punah. Menurut studi: “Dengan menyesal, setidaknya lima sub-spesies… telah punah di alam, akibat perdagangan satwa.” Sub spesies ini termasuk satu sub spesies burung perkici pelangi, 3 sub spesies burung Kucica hutan yang memiliki kicauan yang sangat merdu, dan salah satu species beo, yang sangat digemari karena kemampuannya untuk meniru suara manusia.

“Apakah itu spesies atau sub spesies, pesan yang dapat disampaikan itu sama: perdagangan yang berlebih itu mengakibatkan kepunahan burung liar Indonesia dan hal ini terjadi dalam laju yang sangat mengkhawatirkan”, ucap Dr Chris Shepard, Direktur TRAFFIC Asia Tenggara, dan juga salah satu penulis dari studi mengenai kepunahan burung Indoensia akibat perdagangan satwa.

“Terlepas dari skala perdagangan dan konsekuensi dari perdagangan yang sangat mengkhawatirkan, pihak pemerintah dan bahkan organisasi konservasi tidak melihat hal ini sebagai isu yang prioritas. Hal ini menghambar usaha yang perlu dilakukan untuk mencegah kehilangan yang lebih besar.”

Solusi dari krisis perdagangan burung di Indonesia adalah kombinasi dari penegakan hukum yang lebih tegas, kampanye sosialisasi isu perdagangan burung, penangkaran in-situ, pengembangbiakan populasi untuk kebutuhan konservasi, mengubah pekerjaan pemburu burung menjadi para penjaga dan pengawas konservasi satwa, adanya survey pasar burung dan juga survey genetis burung, ucap para penulis studi ini.

Sementara karena beberapa spesies yang lebih digemari itu lebih cepat punah karena adanya perburuan, maka kemungkinan besar spesies lain yang belum terancam tinggal mengantri menunggu gilirannya. Hal ini karena spesies lain ini akan menjadi target untuk menjadi “burung pengganti”. Sedangkan ada pula para penangkar komersil yang akan mengawinkan jenis untuk mendapatkan “bibit unggul”, yang menyebabkan masalah konservasi burung menjadi lebih kompleks.

Para penulis juga mempertimbangkan apakah penangkaran komersil bisa membantu situasi tetapi menyimpulkan bahwa ”walaupun menarik secara teori, penangkaran secara komersil menghadirkan berbagai kesulitan yang tidak terduga jumlahnya dalam prakteknya.”
 
Trade-driven extinctions and near-extinctions of avian taxa in Sundaic Indonesia (PDF, 250 KB) dipubliskasikan oleh Forktail, journal dari Oriental Bird Club.
 
Untuk informasi lebih lanjut, bias menghubungi:
Dr Chris R. Shepherd, Regional Director for TRAFFIC in Southeast Asia Tel: +603-7880 3940 Email: chris.shepherd@traffic.org

Tetang TRAFFIC
TRAFFIC, the wildlife trade monitoring network, bekerja untuk menjamin perdagangan tanaman dan satwa liar tidak mengancam konservasi alam. TRAFFIC adalah aliansi strategis IUCN dan WWF. www.traffic.org